Saturday, August 27, 2016

STRATEGI DAN HASIL MENULIS BUKU


Dapat dipastikan buku merupakan salah satu sumber belajar setiap orang. Guru berinteraksi dengan siswanya, dosen berinteraksi dengan mahasiswanya, dan sebagainya, dan itu memerlukan tatap muka selama proses pembelajaran. Selama interaksi terjadi hal - hal sebagai berikut :
  1. Berapa energi yang dihabiskan guru, dosen, instruktur, pendidik untuk mentransfer pengetahuan baru kedalam pikiran siswa, mahasiswa, peserta didik. Bagaimana caranya materi disampaikan dengan mudah dipahami, komprehensif, dan lain sebagainya ?
  2. Bagaimana strategi pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai ?
  3. Berapa banyak masalah atau pertanyaan yang dapat kita jawab ?
  4. Berapa banyak kata atau kalimat yang dihasilkan ? Beratus atau beribu kata ? Jika kata atau kalimat yang dibicarakan itu dapat ditulis sebanyak 10 lembar, maka jika dalam perkuliahan, 10 lembar/pertemuan (1 pertemuan diasumsikan 2 sks = 100 menit), maka dalam 1 semester terdapat 16 pertemuan, sehingga 10 x 16 = 160 halaman. Ini sudah layak menjadi suatu buku. Masalahnya, bagaimana kita mulai menulis ?
Banyak motivasi yang mendorong seseorang untuk mulai menulis, yaitu :
  1. Kebutuhan Pembelajaran. Karena pendidik memberikan materi untuk pembelajaran sehingga butuh persiapan. Persiapan itu dibuat harus tertulis.Kumpulan dari sekian banyak materi pembelajaran dapat dibuat menjadi suatu buku.
  2. Kebanggaan. Tak dapat dipungkiri dalam hati manusia ada rasa bangga apabila kita dapat berkarya walaupun rasa bangga itu tidak perlu ditonjolkan. Rasa bangga timbul ketika karya kita dibaca orang, diberikan ucapan selamat atas berhasil diterbitkannya buku. Siswa, mahasiswa dan peserta didik pun turut bangga apabila guru, dosen ataupun pendidiknya berkarya dan bukunya digunakan oleh orang banyak. "Inilah karya dosen/guru/pendidik saya".
  3. Kepuasan. Kita merasa puas dapat menghasilkan karya baik diterbitkan atau tidak. Apabila diterbitkan, kepuasan dan kebanggan akan semakin bertambah.
  4. Kenaikan Pangkat. Dapat terjadi kita menulis untuk meraih jabatan atau pangkat akademis yang lebih tinggi. Apabila tidak diterbitkan diktat (bahan ajar), bernilai kredit 5 sedangkan jika diterbitkan secara nasional maka referensi bernilai kredit 40.
  5. Promosi Diri. Secara tidak langsung karya kita menjadi sarana promosi kompetensi atau kualitas sehingga diri kita layak "dijual" seperti semboyan "publish or perish" (berkibar atau mati)
  6. Materi. Karena karya kita digunakan orang, promosi diri terlaksana, materi akan datang menyertai. Minimal sebagai penulis akan mendapatkan royalti, diundang mengisi seminar atau lokakarya, yang berarti mendatangkan materi juga.
  7. Beramal Melalui Ilmu. Ditinjau dari segi religius, memberi atau mengajarkan ilmu yang bermanfaat merupakan amal yang pahalanya akan terus mengalir sepanjang ilmu tersebut masih terus digunakan dan bermanfaat untuk kebaikan.
Berdasarkan prosesnya, strategi menulis buku dibagi menjadi strategi permulaan menulis, strategi selama menulis dan strategi pasca menulis seperti yang diuraikan dibawah ini :

Strategi Permulaan Menulis.
  • Asahlah kepekaan nalar terhadap apa yang patut ditulis dengan cara banyak membaca sehingga dapat menemukan masalah yang mirip, analog, kontraproduktif (berlawanan). Ketika membaca akan terjadi proses refleksi analitis dalam diri atau otak sehingga kita bisa menyatakan bacaan itu bagus, jelek, setuju ataupun tidak setuju. Peristiwa ini memacu kerja otak. Ide yang kita temukan, perlu untuk ditulis.
  • Asahlah daya analitis untuk membuat judul yang bagus. Suatu judul yang bagus meliputi (1) memiliki nilai jual (marketable); (2) menantang untuk dibaca; (3) bersifat luas yang memungkinkan untuk dikembangkan menjadi sub-sub pokok bahasan; (4) menarik minat pembaca; (5) tidak ambigu (tidak bermakna ganda); (6) tidak terlalu panjang; (7) judul buku sesingkat mungkin. 
  • Tulis semua permasalahan atau ide-ide cerdas yang timbul pada buku judul tulisan sehingga kita memiliki kumpulan judul  atau masalah yang layak ditulis. Sewaktu-waktu ada ide cerdas yang muncul, segera dicatat dibuku itu. 
  • Tentukan judul yang dapat mencakup substansi-substansi yang akan ditulis
Strategi Selama Menulis
  • Kembangkan atau uraikan pokok tulisan menjadi sub-sub pokok bahasan atau mengurai dari judul buku menjadi bab-bab. Buatlah urutan berdasarkan logika linier. Linieritas didasarkan atas tingkat kesulitan, waktu, acara, kepentingan, dan sebagainya. 
  • Mengembangkan bab menjadi sub bab. Caranya dengan menurunkan kata kunci dalam judul bab. 
  • Mulailah menulis. Dalam proses berpikir kreatif, tahap ini disebut iluminasi yaitu tahap pencurahan ide, pembahasan, analisis, dan sintesis. Permulaan terkadang sulit, namun teruslah mencoba. Bila merasa ada yang salah atau kurang sreg, hapus saja. Komputer memberikan kemudahan untuk itu. Setelah itu, mulailah lagi untuk menulis. 
  • Tuliskan pendapat anda, hasil struktur analisis sintesis, hasil evaluasi, dan pemahaman menjadi ramuan tulisan. Pada substansi materi tertentu gunakan kutipan-kutipan para ahli untuk mendukung kekuatan pendapat anda secara ilmiah. Dengan didukung hasil penelitian, jurnal ilmiah, majalah, pendapat anda akan lebih kokoh dan terpercaya.
  • Padukan berbagai referensi untuk menguraikan dan mengkaji substansi yang ditulis. Hal ini untuk menunjukkan bahwa penulis telah membaca banyak referensi. Ini akan sangat mendukung kekuatan buku yang ditulis.
Pasca Menulis
  • Setelah tulisan kita menjadi suatu draft buku perlu tahap verifikasi mengedit untuk mengkoreksi substansi. Jika masih kurang perlu ditambah tulisan. Jika ada kelebihan (yang tidak perlu), dapat dihapus atau diganti.
  • Mengedit tata tulis menurut ejaan yang disempurnakan (EYD), kalimat tidak bersubjek, interferensi (percampuradukan, misal kata-katanya bahasa Indonesia tapi berpola Inggris)
  • Meminta pendapat pada para ahli
  • Mengedit performansi buku atau wujud fisik dari penampilan tulisan. Tebal tipis, letak ilustrasi (foto atau gambar), jenis tulisan, dan sebagainya
Ada penulis yang membutuhkan waktu, tempat, perhatian, atau konsentrasi secara khusus untuk mencurahkan ide-idenya dalam tulisan. Ini membutuhkan perhatian terpusat dan berlangsung pada wkatu dan tempat tertentu, misalnya ruang kerja. Ada pula penulis yang mencurahkan idenya secara santai. Sambil menonton TV ia menulis, di sela-sela bekerja ia menulis, sambil bercengkrama ia menulis, bahkan ditempat cafe makanan atau minuman juga merupakan tempat yang santai untuk menulis. Semua cara tersebut tergantung pada penulis sendiri.

Hasil Menulis Buku
Menulis buku jika dijalani dengan serius tentunya akan memberikan hasil yang bisa menghidupi penulis. Bukan hanya dari segi materi saja, tapi dari segi lainnya. Sebagai contoh, Habiburrahman El-Shirazy yang berrhasil membeli tanah dan membangun pesantren yang cukup luas dari bukunya Ayat-ayat Cinta. Selain itu masih ada Andrea Hirata dengan bukunya Laskar Pelangi yang menjadikan penghasilannya sebagai karyawan telkom sangat jauh berlipat-lipat dibawah royalti atau honor dari hasil menulisnya. Hal ini masih ditambah dengan penghasilannya saat Laskar Pelangi kemudian difilmkan. 
Tentu ini merupakan penghasilan sangat besar untuk seorang penulis. Karena ketika kita menulis, kita hanya bekerja satu kali dan akan mendapatkan penghasilan yang terus menerus setiap enam bulan sekali. Karena pembayaran bagian penulis adalah 6 bulan sekali atau 3 bulan sekali.
Bagaimana dengan penulis buku sekolah ? Untuk buku IPS sekitar 50 sampai 100 juta setahun. Untuk buku IPA mencapai 100 - 200 juta setahun.

Kembali pada diri kita masing-masing. Yang lebih penting adalah :
  1. Kapan kita mulai menulis ?
  2. Jangan hiraukan dan jangan takut orang mencerca atau mengkritik. Terus dan teruslah menulis.
  3. Cobalah menulis materi yang disampaikan saat anda belajar. Kumpulkan materi itu hingga menjadi suatu buku.
  4. Lebih baik kita berkarya apapun adanya daripada tidak sama sekali.
  5. Hargailah karya orang lain apapun adanya karena ia telah berbuat sesuatu.
Semoga bisa menjadi pertimbangan untuk pembaca :)




0 komentar:

Post a Comment